Thursday, 27 February 2014

Dear Guys,




dear guys,

aku akan selalu merindu malam2 yang terasa panjang bersama kalian

tentang springbed dan ac di kamar desak yang selalu jadi jujukan kala penat
tentang warung penyetan mega yang hemat dengan porsi "tepat"
tentang lemburan2 tugas dini hari di perpustakaan
tentang lunch tour kantin fakultas lain hanya untuk sekedar menyegarkan mata
tentang cak durasim dan monolog butet yang kadang dikunjungi untuk memperkaya hati
tentang obrolan berbusa-busa mengenai mimpi dan makna hidup 
tentang guyonan tak jelas yang membuatku sakit perut tak karuan
tentang makna rantau yang menjadi bias..

karena dengan kalian semua terasa seperti rumah. :)


terimakasih untuk lima tahun yang fantastis.  

Tuesday, 25 February 2014

Mommy and Ca (1)

me, mom, n brother
Kalau ada lomba siapa yang paling juara di hati saya, yakinlah cuma ibu jawabannya. Klise? yah.. siapa juga sih yang tidak megidolakan ibunya sendiri. Saya termasuk salah satu anggota geng mommy fans club itu. Bukan hanya karena beliau yang sudah merawat saya sejak kecil, tetapi juga karena di sela-sela kesibukannya sebagai supermom, tak letihnya juga beliau berjuang melawan sel ganas yang menggerogoti tubuhnya.

Yes.. my mommy's got cancer. Diagnosa Ca mammae dan Ca OV tertulis di rekam medisnya yang tersimpan di bbrp rumah sakit di kota kami. She's one of the woman that struggling herself without breast and uterus anymore. She's got two cycle of chemotherapy and 1 cycle of radiotherapy. But Thanks God, Beliau baik-baik saja saat ini. :)

Terlihat baik-baik saja mungkin lebih tepatnya. Saya tidak pernah sekalipun berharap sel kanker itu diam-diam tumbuh lagi di dalam sana merusak sel-sel tubuhnya yang sudah lelah terkena hempasan bahan kimia. Begitu juga Ibu, karena itu beliau rutin melakukan check up. 

Sudah setahun berlalu sejak kemonya yang terakhir, kemo yang selalu jadi mimpi buruk bukan hanya untuknya tapi juga untuk kami di rumah. Physically Ibu terlihat sangat sehat sekarang, namun sayangnya hasil lab berkata lain. Ca marker 125 yang ditunjuk oleh dokter sebagai panduan diagnosa trennya meningkat selama 3 bulan terakhir. Dua dokter sampai terhenyak, mereka mengatakan sesuatu yang kedengarannya seperti masih ada monster di tubuh ibuku. masih ada sel kanker.. yang belum terlihat dan entah bersembunyi di mana.  Ibu kaget, saya juga, semua orang rumah paham bahwa itu berarti harus ada kemoterapi lagi.

Terhenyak, rasanya tidak akan sanggup melihat Ibu kesakitan lagi setiap pulang kemoterapi. Tidak akan pernah siap untuk mencukur gundul rambutnya lagi karena rontok dan cuma bersisa di sana sini. Saya sungguh cuma melongo, sungguh cuma itu satu-satunya jalan? 

Saya berkata seperti orang bego, berteriak dalam hati apa Ibu hanya boleh menikmati kebahagiannya setahun saja? Keilmuan saya seperti menguap entah kemana sampai seorang  teman menjelaskan pelan-pelan. Meskipun pengalaman masih cetek harusnya saya sadar marker Ca yang masih tinggi itu mungkin menunjukkkan obat kemo yang tidak responsif terhadap sel kankernya, sehingga biasanya akan diusahakan dengan obat kemo jenis yang lain. dan betul, tidak ada yang pernah menjamin seseorang bisa sembuh 100 % dari kanker. 

Di tengah kekalutan saya, Ibu mungkin saja jauh lebih gelisah, tapi beliau tetap terlihat tegar bahkan saat menceritakan berita ini pada saya. Batin saya boleh terluka, tapi saya tidak boleh terlarut. Saya sadar dorongan keluarga sangat penting untuk Ibu saat ini. Saya harus legowo. Saya harus percaya bahwa kemoterapi untuk Ibu adalah salah satu wujud ikhtiar untuk memperpanjang angka harapan hidup hingga 5 tahun kedepan seperti yang dokter katakan. 


tidak datang cobaan kepada seseorang, selain untuk meningkatkan derajatnya.. bila dia bersabar.
 

Friday, 22 November 2013

Aku ingin hidup!

Aku  ingin  mendaki puncak  tantangan,  menerjang  batu  granit kesulitan,  menggoda  mara  bahaya, dan  memecahkan  misteri dengan  sains.  Aku  ingin  menghirup  berupa-rupa pengalaman lalu terjun bebas menyelami labirin lika-liku hidup yang ujungnya tak dapat  disangka.  Aku  ingin  ke  tempat-tempat  yang  jauh, menjumpai beragam  bahasa  dan  orang-orang  asing.  Aku  ingin berkelana,  menemukan arahku  dengan  membaca  bintang gemintang. Aku  ingin  mengarungi  padang dan  gurun-gurun,  ingin melepuh  terbakar  matahari,  limbung  dihantam  angin, dan menciut  dicengkeram  dingin.  Aku  ingin  kehidupan  yang menggetarkan, penuh dengan penaklukan. Aku ingin hidup! Ingin merasakan sari pati hidup!
Andrea Hirata - Edensor. 

Thursday, 14 March 2013

Kesempatan

Hari ini sudah minggu keenam saya PKP di RS dan minggu keenam ini saya bertugas mengobservasi pasien di interna, sebut saja bapak A. Bapak A ini penderita diabetes melitus yang sudah lanjut dan harus diamputasi kedua kakinya karena luka yang sudah membusuk. Amputasi berjalan sangat lancar, saya pun sempat menemui pasien dan keluarga pasca amputasi untuk mennanyakan keluhan mengenai obat.
Belum selesai hati saya berdesir membayangkan bagaimana rasanya harus hidup tanpa dua kaki ternyata pasien ini meninggal tadi pagi, padahal kemarin saya masih bertemu dengan kondisi yang baik.

Putra bapak A masih seusia remaja, dan kini beban keluarga sudah jatuh di pundaknya.

lagi-lagi saya diingatkan. saya harus bersyukur punya segala macam, saya harus ingat bahwa setiap manusia bisa dipanggil kapanpun dan dimananpun. saya harus bersyukur masih ditanggung semua kebutuhan masih diberi nikmat kesehatan, masih diberi kesempatan untuk belajar dan beribadah. rasanya ingin menangis karena telah menyia-nyiakan banyak waktu ya.
Segalanya adalah milikNya dan akan kembali padaNya.
yuk sama-sama memanfaatkan kesempatan yang baik ini dengan benar. Tuhan lebih dekat dari yang kita kira.

Sby, 14/03/12

Saturday, 27 October 2012

Apa kabar?

kali kedua hujan datang mengguyur kota ini, setelah panas yang terlalu betah berlama-lama.
dan aku masih di sini dengan setumpuk diktat dan kopi, mencoba memahami -atau mungkin menghafal- baris-baris teori.

happy graduation.
ucapan itu tumpah ruah seminggu yang lalu.
dan aku masih di sini, menunggu waktu turun ke dunia nyata.
dan aku masih di sini, menunggu waktu untuk akhirnya sedikit bisa bermanfaat dengan keilmuanku.

hujan datang seakan meluruhkan semua rasa.
malam ini bersama kopi, 2 hari menjelang ujian tulisku di program profesi, aku memikirkanmu kuat-kuat.
ah.. seandainya aku bisa menatapmu lekat-lekat.
seandainya aku bisa tahu kemana arah matamu bergerak.

hai masa depan, apa kabar?

Indigo coffee shop, 
bersama stabilo kuning kesayangan

Wednesday, 4 April 2012

IRD tengah malam

Jarum jam menunjukkan pukul 23.58 ketika saya dan Rian memutuskan bergegas ke Instalasi Rawat Darurat. TEman satu kos kami kecelakaan, seorang teman datang bersama gerobak membawa sepeda motornya yang agak ringsek sebelah. 

Lutut saya lemas rasanya, melihat kondisi motor yang lumayan ringsek begitu, bagaimana kondisi teman saya? Beruntung kata teman dia tidak apa-apa, walaupun lawan yg entah ditabrak atau tertabrak itu agak lebih parah kondisinya. Sesampainya di IRD, sang teman yg menjadi korban ini sudah dikerubutin banyak bapak-bapak. tak tega saya. Salah satu dari mereka ternyata yg menjadi korban, dan agaknya tidak cukup puas sudah diberi pengobatan pertama di IRD.  

Tidak jelas siapa yang bisa dipersalahkan, kondisi motor bapak tersebut sedang melaju sangat kencang ketika bertabrakan dengan teman saya yang notabene melaju dengan kecepatan rendah kata banyak saksi mata.  Namun sang Bapak tidak mau begitu saja dipersalahkan. Walaupun begitu, bapak terlihat agak lebih parah kondisinya karena terus memegangi perutnya, yang mungkin memang masih sakit. 

"apa kata dokter Den ttg Bapaknya?" saya bertanya,
"syok aja katanya Fi, nggak parah kok Bapaknya. Cuma ini bapaknya minta KTPku, katanya kalau penyakitnya lebih parah dia bisa minta ganti rugi. juga sekalian ganti rugi sepeda motornya, tapi motorku sendiri juga rusak parah. Aku tinggalin nomor telepon ndak mau." sang teman menjawab.

Kami di sana berenam, orang-orang beranjak dewasa usia 20-an ini harus beradu argumen dengan lima bapak-bapak paruh baya yang bertampang sangar-sangar itu. Bukannya tidak ingin bertanggung jawab, tetapi kami tanpa orang dewasa yang bisa dimintai pertimbangan memilih untuk tidak mengambil resiko dengan memberikan KTP atau SIM. Berusaha mencari jalan tengah, sang Bapak kemudian menyebutkan nominal 400.000 rupiah sebagai ganti rugi. 

Ditulung mentung.
Terlintas paribasan jawa di kepala saya. Dalam kondisi yang tidak seharusnya dipersalahkan, teman saya sudah rela menanggung biaya pengobatan di IRD, tetapi rasanya kecewa sekali begitu mendengar nominal yang disebutkan sang Bapak. Bukan apa-apa, 400 ribu itu akan sangat lebih dari cukup untuk memperbaiki motornya. Juga kami hanyalah mahasiswa yang belum menghasilkan uang sendiri.
Akhirnya merogoh kantong kami masing-masing, kami memilih untuk tidak memperumit suasana. Teman laki-laki kami memutuskan untuk mengantarkan sang Bapak ke rumah dan mengganti sesuai yang diminta. Kalau ada apa-apa sudah dtinggalkn nomor telepon yang bisa dihubungi. 

Pukul 01.10 saya pulang dengan perasaan berkecamuk, antara kesal dan iba. kesal karena kecewa atas sikap sang Bapak, tetapi sekaligus iba. Biarpun begitu, setidaknya sdh ada tanggung jawab dan niat baik dari teman saya, semoga semua baik-baik saja. Amin.

Ternyata kebenaran tak selalu bisa menang, niat baik pun tak selalu disambut uluran tangan dengan ikhlas. dilematis ya kawan? 

Monday, 19 March 2012

Siapkah dipanggil? Siapkah ditinggalkan?

diambil dari anisareswara

Dua malam saya tercekat tiap setelah Isya, air mata seperti leleh sendiri membaca timeline penulis kesukaan saya yang baru saja kehilangan suaminya.

Mengapa bisa sedramatis ini? apakah karena saya begitu menyukai tulisannya? tidak juga..  ya, saya memang menyukai karyanya.. tapi tidak sefanatik itu juga. Kata dia mungkin itu namanya empati. kata dia mungkin karena nama kami hampir sama. lebih dari itu semua.. saya sangat kagum dengan perjuangan kakak penulis yang satu ini. Wanita mandiri. Janda dengan anak usia remaja yang tiba-tiba dinikahi oleh lajang yang lucu, pintar, dan bijaksana. Betapa bahagianya, walaupun hanya tiga bulan merasakan kebahagiaan sebelum akhirnya harus kehilangan separuh jiwanya dalam keadaan hamil muda sekarang.

Fira.. begitu tegar dan manis mengungkapkan semua perasaan kehilangannya. Betapa saya seperti tertampar, this is life.. semua bisa mulai dan berakhir begitu cepat. Mungkin sudah jalannya saya diingatkan melalui kematian suaminya..

Manusia punya rencana. Betapa tulisan2 saya & imajinasi kalah oleh dunia nyata. Tuhan, Sang Pujangga. Saya&  tokohnya. - Fira
tulisan terakhirnya di timeline pagi ini.  Seperti membaca novel memang kak, hidupmu.. hidup kita. Bedanya kita tidak pernah tahu Penulis menyiapkan plot yang seperti apa yang akan kita hadapi.
Sudah siapkah saya jika saya harus dipanggil mendadak seperti itu? saya takut.. kalau bekal saya tak cukup..

"Kematian," kata dia, "memang banyak ditakuti manusia."
"tapi sebagai kaum yang beriman, sebaiknya kita selalu berprasangka baik pada ketetapn Allah "
"Harus yakin akan diberikan takdir yang baik.."
"Lalu diikuti ikhtiar dengan cara yang sudah diatur dalam Islam, dengan begitu, semua ketakutan tentang kematian, InsyaAllah bisa teredam.."

Karena semua milikNya dan akan kembali padaNya...

Spt apa 'sungai2 yg mengalir di bawahnya' di surga ? Aku ingin km tertawa bahagia di sana. Ini kutitip hujan, byk doa. - Fira
Semoga kekuatan selalu bersama hati mereka yang ikhlas. Laa haula wa laa quwwata Illa billah..

tidak datang cobaan kepada seseorang, selain untuk meningkatkan derajatnya.. bila dia bersabar. - via Accing