Tuesday, 24 August 2010

Spasi Tanpa Spasi

Seorang sahabat yang keypad spasi hpnya sedang rusak tiba2 mengirimkan pesan singkat kepada saya, "Alhamdulillah ibu peri.. Spasinya udah sembuh :D apa jadinya hidup ini tanpa sebuah spasi. see ya tomorrow.". Saya tersenyum membacanya. Ringan tapi ternyata begitu membekas di hati saya.

Spasi, apa jadinya tanpa dia ya.. Bukan cuma sebuah, tapi hidup kita butuh banyak sekali spasi. Sekedar berhenti sejenak untuk mengambil nafas, mungkin juga memberikan waktu sebentar saja untuk melihat sekeliling agar tak melulu larut dalam arus.

Saya sedang mengalami spasi teman, namun nyatanya dalam spasi itu saya bahkan tidak menemukan spasi. Beberapa hari libur sejenak dari rutinitas kampus membuat tubuh saya tak banyak bergerak. Waktunya istirahat, kata teman2. Tetapi ternyata si insomnia malah memberontak, tak mau berkompromi. Jadilah saya terjaga sepanjang malam tanpa ada kerjaan, baru bisa terlelap setelah makan sahur -yang saya khawatirkan akan membuat pasokan lemak di tubuh saya semakin bertambah saja karena tidur setelah makan T.T-, itupun hanya beberapa jam saja. Padahal saya merindukan saat2 selepas subuh, ketika masih diberi kesempatan melihat sunriseNya di langit. hwah.. saya butuh aktivitas di siang hari rupanya, biar gak insom terus2an begini.. anyway, besok balik ke surabaya.. yang artinya wira-wiri lagi, semoga spasi tanpa spasi ini berakhir ya.. hehe ^^

Agak gak nyambung, tapi melihat purnama malam ini, saya lalu kangen sekali membaca2 ulang tulisan dee, fira basuki atau yang lain. Butuh tenggelam dalam dunia kata2 mereka untuk sekedar memberikan "spasi" dalam hidup saya.. :)

Seindah apa pun huruf terukir, dapatkah ia bermakna apabila tak ada jeda?dapatkah ia dimengerti jika tak ada spasi?
Bukankah kita baru bisa bergerak jika ada jarak?dan saling menyayang bila ada ruang?
Kasih sayang akan membawa dua orang semakin berdekatan,tapi ia tak ingin mencekik, jadi ulurlah tali itu.
Napas akan melega dengan sepasang paru-paru yang tak dibagi.darah mengalir deras dengan jantung yang tidak dipakai dua kali.
jiwa tidaklah dibelah, tapi bersua dengan jiwa lain yang searah.jadi jangan lumpuhkan aku dengan mengatasnamakan kasih sayang.
Mari berkelana dengan rapat tapi tak dibebat.janganlah saling membendung apabila tak ingin tersandung.
pegang tanganku, tapi jangan terlalu erat,
karena aku ingin seiring bukan digiring
[dee - Filosofi Kopi]

No comments:

Post a Comment